Thursday, March 31, 2005

Amore's birthday!

Kemarin adalah hari yang luar biasa, bahkan lebih indah dari hari ulang tahunku. Sungguh, aku tidak berlebihan. Jadi begini rasanya, membahagiakan orang yang disayangi (kata ini sungguh eufemisme =p) efeknya membuat aku merasa jauh lebih bahagia.

Terencana begitu sempurna, terjadi begitu spontan. Mencanangkan yang terbaik sungguh tak mudah untukmu. Tapi aku senang melihat binar itu di matamu. Kau suka hadiah dan kejutan dariku? Aku lebih terkejut dengan hal indah yang terjadi kemarin malam pada kita =)

Sunday, March 27, 2005

Postingan akhir

Mencintaimu, dicintaimu, dan terlebih lagi bercinta denganmu adalah kegiatan yang takkan pernah usang. Pernah melihat pajangan meja kantor yang berupa bola-bola kecil berwarna metal yang disusun secara horisontal? Mereka saling beradu dan ayun mengayun. Begitu tinggi dan juga begitu rendah. Menciptakan irama menarik yang tak bisa kau sebut monoton. Kamu dan aku. Begitu semarak hidup kita bukan? Mari untuk selanjutnya kita rajut kisah kita dan sematkan di dada dengan benang yang paling kuat; pengertian.

Postingan pagi hari

Kau bilang kau ingin berpikir,
menyendiri beberapa jenak dari keberadaanku.

Maaf, apakah aku mengganggumu?
Apakah kagumku, pujaku,
sayangku, kasihku, cintaku,
pengertianku, pengorbananku,
lirihku, jeritku, tangisku,
peluhku, renjanaku,
sedihku, marahku, jengkelku,
semangatku, perjuanganku,
kecewaku, asaku, sedu sedanku,
hitam-putihku, pelangi jinggaku,
semarak hidupku, ringan nafasku,
detak jantungku yang berpacu bergemuruh,
halus tangan serta kesepuluh jemariku,
hitam rambutku, keperempuananku,
keseluruhanku mengganggumu?

Maaf kalau bagitu. Kau kini bisa nikmati sendirimu.
Nanti bila kau sudah kembali jenuh, aku masih disini.
Dengan semuanya yang sama, tapi kembali lagi aku harus meminta maaf.
Bisa jadi nanti waktuku sudah habis.

Wednesday, March 23, 2005

Ribuan versi

Dulu, otak dengan kapasitas terbatas dijejali sejarah panjang tentang perjuangan kemerdekaan. Ingat betul dengan cerita heroik itu. Katanya dia pahlawan, dan tentu nantinya penguasa orde baru. Ternyata kata sumber terpercaya, supersemar itu tidak ada dan semua bualan belaka. Rasa heran lama-kelamaan membludak, lalu habis dan sisakan ragu. Siapa yang berani jamin dulu Indonesia benar-benar terjajah, jangan-jangan ada cerita lain lagi. Heran, baru urusan tanah air saja, sudah banyak versinya. Bikin aku tambah bingung, takut menjejak dan aku-mengaku 'ini tanah airku!'. Nah, coba bayangkan kalau urusan intern yang alurnya saling menyilang. Intern vertikal tepatnya! Hahaha...sialnya aku yang terlahir di keluarga yang taat sekaligus menjunjung kesederhanaan logika B/S (baca:benar salah).

Sunday, March 20, 2005

Dream dream dream

Terbangun dengan peluh yang basahi sekujur tubuh karna mimpi yang menakutkan? Tentu pernah. Sama halnya dengan mimpi yang menyedihkan. Maka bergantilah kedua bola mataku yang dibasahi air mata. Tapi baru kali ini aku mengalami mimpi yang demikian aneh. Sangat langka dan mendatangkan suka. Aku mimpi tengah berkumpul dengan sahabat-sahabatku waktu di sma. Kami terlibat pembicaraan seru yang jelas hanya gurauan belaka (kami selalu menganggapnya seru, entah kenapa). Adegan yang terekam jelas di benakku adalah kami berempat menertawakan foto kami sendiri, yang sedang berlepotan coklat di bibir dan jemari. Percaya atau tidak, aku sungguh-sungguh terbangun dalam keadaan tertawa geli. Sepertinya aku ingin cepat-cepat reuni saja.

Titik reda gelisah

Prolog yang hampir sepanjang dongeng, dibacakan turun temurun hingga nyaris kehilangan alur yang asli. Tapi tentu, inti cerita tidaklah statis. Bahkan sangat diwarnai oleh pelangi sejuta warna. Naik dan turun, lompat sana lompat sini, dan hup serentetan staccato dalam permainan piano. Kadang ringan seperti helai bulu, kadang berat seperti gerutuan malam. Penuh misteri dan kejutan yang bisa dibilang cukup romantis. Tidak tahu bagaimana epilognya, tapi kuharap tak pernah ada yang menyurutkan cerita ini.

Saturday, March 19, 2005

Ruang, lapang dan jeda

Da spatium tenuemque moderam, male cuncta ministrat impetus. Berilah ruang, kelapangan, dan jeda, yang serba tergesa-gesa hanya akan menyebabkan semuanya menjadi buruk.

Cukup sudah dengan semua rintihan itu. Kini aku berusaha menikmati semua duka, tanpa maksud menghindarinya. Kujelang setiap detik dengan penghargaan yang baru. Betapa duka sesungguhnya bersebelahan dengan suka. Karna dalam duka, kita menemukan hal-hal baru yang indah. Menyadari betapa banyaknya orang yang perduli, bahkan pada pengunjung tidak tetap blogku ini. Jadi cukuplah sedu sedan itu.

Kuberi ruang pada sedih, biar dia ambil sebagian milikku. Kuberi lapang pada kecewa, biar nanti dia puas lalu bergeser ke tempat lain. Dan jeda, bagi sepasang milikku untuk memproduksi air mata. Karna bahagia yang sesungguhnya bisa jadi terletak pada kepuasan diri. Dan aku, sungguh telah bahagia, walau berjalan seiringan dengan kebimbangan ini.

Thursday, March 17, 2005

El Shaddai

El Shaddai, diambil dari bahasa Ibrani. Harafiahnya berarti “Allah dalam buah dada wanita”, maksudnya Allah yang memelihara dan mencukupi kebutuhan manusia. Kebutuhan, ya jiwa raga. Dari urusan sepele hingga yang paling kompleks. Dari yang primer untuk dilakukan tiap hitungan detik, bernapas contohnya, hingga yang paling tersier. Apapun itu, untuk menjaga kelangsungan hidup manusia, bisalah kita serahkan padaNya. Pun bila kita harus berhemat kata, tidak mengobralnya begitu saja. Karena sungguh, satu-satunya yang bisa dipegang dari keberadaan manusia adalah kata-kata. Bahkan menurutku itulah penentu seseorang bisa dianggap manusia atau tidak. Bukan tape rusak yang diputar berulang-ulang. Dan lagi, belum pernah kutemui orang sekarat karena tak bisa berkata-kata. Jadi lebih baik mengunci lafal daripada mencelakai orang lain.

Ah, lama-lama bosan dengan postingan berbau kejujuran. Tapi memang lagi booming sih, jadi gimana ya? Bukannya sok jujur tapi bila kebohongan dilakukan berulang-ulang dari Subjek ke Objek yang sama, itu baru namanya gak pernah belajar. Atau gak mau belajar ya? =)

Wednesday, March 16, 2005

Sentences

“You cannot trust anyone”

Sebuah kalimat yang cukup familiar. Dulu aku menertawakannya, karena harus kuakui indah mayapadaku tahunan yang lalu. Sampai akhirnya aku harus terus-menerus menyibak ilalang setinggi bahu untuk menemukan kejujuran. Begitu mahalnya kah? Ini Jakarta, bung..tidak ada yang gratis. Lalu lari kemanakah lontaran-lontaran jujurku? Apakah tidak berlaku lagi sistem barter? Ternyata mereka menukarnya sampai habis, dengan ego, kepuasan, dan pada akhirnya air mata.

“Don’t put your happiness in other person’s hand”

Nah, yang ini baru merupakan kalimat favoritku. Thanks to Prita who introduce me with this ‘healthy’ sentence, aku menjadi tunggal dalam kompleksnya hari-hariku. Memang, aku ini bukan siapa-siapa. Aku pun tak bisa hidup tanpa orang lain. Tapi dari tergelincir, jatuh, terluka yang berulang kali terus dilakukan, aku mau tak mau harus begini. Mungkin kata yang terbaik untuk menggambarkannya adalah, pasrah. Ya, pasrah terhadap hal-hal yang dilakukan orang lain. Karena jangankan mereka yang terpisah dari tubuh dan fikirmu, dengan diri sendiri pun bisa terjadi banyak kesalahan yang melukai relung hati. Sungguh, semua cobaan diberikan untuk membuat kita lebih kuat. Hidup pun berlanjut, dengan mereka atau tanpa mereka. Seperti semesta yang terus berdenyut, ada nafasku di dalamnya maupun tidak.

Tambah waktu, tambah ilmu..

Masih kurang banyak? Baik, akan kutambah nanti seiring waktu. Agar kau tahu, selayaknya kama bisa melintasi jarak yang terjauh. Sebut saja, puncak gunung yang terjauh pun kususuri dengan ringan hati. Nanti pada saatnya kau akan tahu, betapa kama memberikan daya yang dahsyat pada intisari seorang manusia. Maka ia akan mengubahmu menjadi petarung nasib yang handal, pejuang waktu yang sigap, dan tentunya kekasih yang luar biasa cekatan. Hanya pelukanmu, sayang. Hanya itu yang kubutuhkan saat remuk redam hatiku menyadari betapa kejamnya pelakon-pelakon di dunia kecilku.

Dialog, aku dan bayu daksina.

Sedang apa kau? Oh, sedang mencariku? Tidakkah kau tahu, aku tidak kemana-mana. Sedari tadi aku berada disini. Apa kau bilang? Aku sudah berubah? Ah, bisa saja..tapi mungkin kau ada benarnya. Aku memang mengambang, ringan tubuhku sudah pulih. Bahkan lebih baik dari semula. Tidak, aku tidak sedang diet. Apakah kering emosi bisa kau katakan diet? Yah, beginilah aku. Terasa lebih kokoh bukan? Hahaha..jangan kau kira aku ini sedang mimpi. Aku tidak sedang terlelap, atau mungkin kau yang begitu? Kalau begitu bangunlah, dan bila nanti kita bertemu jangan sampai kau tak kenali aku.

Kau itu buta warna atau tidak?

Kau terlalu jemawa. Terlalu amat sangat bahkan. Kau kira kau paling tahu aku, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Keseluruhan seorang aku. Dan lihatlah apa yang terjadi. Untuk apa kujabarkan panjang lebar mengenai warna putih pada orang yang tak buta warna? Baru kusadari bahwa kau dan mereka adalah sama. Ya, mereka dan dia terutama yang kau katakan bodoh. Kau rupanya hanya mengulang siklus. Bisa jadi kau menyayangi, mengetahui, tapi jelas tak mau mengerti. Belajarlah, teman..dan kali aku harus kukatakan, perjalananmu masih panjang!